Margasari – Pada Selasa (8/9/2026), disela kegiatan estafet Tunas Kelapa Jawa tengah Tahun 2026, Jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal bersama pengurus Kwartir Cabang (Kwarcab) Tegal mengunjungi melihat langsung kondisi Rojanatun, Penderita TBC asal Danaraja, Margasari.
Kunjungan tersebut merupakan bagian dari Bhakti Pramuka yang digelar di sela rangkaian Estafet Tunas Kelapa (ETK) Kwarda Jawa Tengah 2026.
Perjalanan tunas kelapa yang melintasi wilayah Kabupaten Tegal itu sejenak berhenti pada sebuah persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan warga: perjuangan seorang remaja untuk kembali bernapas tanpa bantuan oksigen.
Wakil Ketua Kwarcab Tegal Bidang Pembinaan Anggota, Edy Sucipto, mengatakan ETK tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan estafet, tetapi juga menjadi momentum untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Kita tidak hanya melaksanakan estafet, tetapi juga ada kegiatan bhakti yang menyentuh masyarakat. Salah satunya kunjungan kepada penderita TB di Desa Danaraja ini,” kata Edy.
Sementara itu, selang kecil terhubung ke hidung Rojanatun (16). Dari tabung oksigen di samping tempat tidurnya, udara dialirkan untuk membantu gadis itu bernapas.
Di rumah sederhana di RT 4/RW 1 Desa Danaraja, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, oksigen kini menjadi bagian dari kesehariannya. Di bagian depan rumah terpampang tulisan “Keluarga Miskin Penerima Bansos PKH”.
Rumah itu dihuni tujuh orang. Ada ayah, ibu, tiga anak, serta kakek dan nenek. Di tengah keterbatasan keluarga tersebut, Rojanatun masih harus berjuang melawan TB milier yang telah menyebabkan kerusakan pada jaringan parunya.
Ia membutuhkan oksigen sekitar dua liter per menit.
Sebelumnya, ia sempat menjalani perawatan di RSUD dr Soeselo sebelum dirujuk ke RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Selama 51 hari, gadis tersebut menjalani perawatan di rumah sakit rujukan tersebut.
Namun, ketika waktunya kembali ke Tegal tiba, persoalan lain muncul. Keluarga menghadapi kendala biaya untuk membawa Rojanatun pulang.
Keluarga sempat ditampung di Peksos Yogyakarta. Kondisinya kemudian dilaporkan kepada Pemerintah Desa Danaraja dan diteruskan untuk dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal.
Dari sana, bantuan mulai bergerak.
Pemerintah desa, tenaga kesehatan dan sejumlah instansi berkoordinasi hingga Rojanatun akhirnya dapat dijemput dan dibawa pulang ke Danaraja.
Namun pulang ke rumah bukan berarti perjuangan selesai.
Tubuh Rojanatun masih membutuhkan bantuan oksigen. Sejak 13 Agustus hingga 8 September 2026, sedikitnya 26 tabung oksigen berkapasitas 5.000 liter telah digunakan untuk memenuhi kebutuhannya.
Setiap hari, kader desa juga datang menjalankan tugas sebagai PMO atau Pengawas Menelan Obat. Mereka memastikan obat anti tuberkulosis (OAT) diminum sesuai jadwal.
Banyak Tangan Membantu
Perjuangan Rojanatun kemudian menjadi perhatian bersama.
Pemerintah Desa Danaraja, Pemerintah Kecamatan Margasari, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, RSUD dr Soeselo, Baznas hingga SPPG se-Kecamatan Margasari terlibat dalam penanganannya.
Bantuan diberikan sesuai kebutuhan.
Dinas Kesehatan membantu obat-obatan dan vitamin melalui puskesmas. Dinas Sosial membantu biaya transportasi kepulangan dari RSUP Dr Sardjito Yogyakarta.
RSUD dr Soeselo membantu perawatan sekaligus kendaraan penjemputan. Baznas membantu penyediaan tabung oksigen. Sedangkan SPPG memberikan makanan tambahan untuk mendukung kebutuhan gizi Rojanatun.
Kondisi keluarga membuat dukungan tersebut menjadi penting. Ibunya menderita diabetes. Sementara kakek dan neneknya merupakan penyandang tunanetra.
Karena itu, perawatan Rojanatun tidak cukup hanya mengandalkan keluarga. Ada banyak tangan yang harus bergerak agar pengobatannya tetap berjalan.
Edy mengatakan disiplin menjalani pengobatan menjadi salah satu kunci agar kondisi Rojanatun dapat membaik.
“Kalau pengobatannya rutin, disiplin obat anti TB (OAT) dan berjemur, insyaallah bisa lepas dari ketergantungan oksigen,” ujarnya.
Bukan Hanya Satu Pasien
Kunjungan tersebut juga membuka perhatian terhadap kemungkinan adanya kasus TB lain di sekitar Rojanatun.
Dinkes Kabupaten Tegal menyiapkan Active Case Finding (ACF) TB di Desa Danaraja. Puskesmas Margasari akan melakukan pemeriksaan aktif untuk menemukan warga yang diduga menderita TB sehingga dapat segera diperiksa dan ditangani apabila terkonfirmasi.
Upaya serupa juga direncanakan dilakukan lebih luas.
Dinkes Kabupaten Tegal bersama Gerakan Pramuka berencana melakukan pelacakan TB secara serentak di 346 lokus. Setiap lokus ditargetkan mencakup sekitar 100 orang.
Ketua Badan Kehormatan Perkumpulan Pemberantas Tuberculosis Indonesia (PPTI), dr Widodo Joko Mulyono, mengatakan keberhasilan pengobatan TB membutuhkan dukungan pasien, keluarga dan lingkungan.
Pasien harus disiplin mengonsumsi OAT sesuai petunjuk tenaga kesehatan dan tidak menghentikan pengobatan sendiri ketika kondisi mulai membaik.
“Pasien TB membutuhkan asupan makanan bergizi untuk membantu mempertahankan kondisi tubuh selama menjalani pengobatan,” kata Widodo.
Keluarga juga perlu memantau kondisi pasien, termasuk jika muncul keluhan atau efek samping obat. Bila ada masalah, pasien sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Orang yang tinggal serumah juga perlu mendapat perhatian karena kontak erat dengan pasien TB memiliki risiko lebih tinggi terpapar.
“Orang yang tinggal serumah juga perlu diperhatikan karena kontak erat dengan pasien TB memiliki risiko lebih tinggi terpapar,” pungkasnya.
Di luar rumah Rojanatun, perjalanan Estafet Tunas Kelapa kembali bergerak menuju titik berikutnya.
Tunas kelapa terus berpindah dari tangan ke tangan, membawa simbol kesinambungan Gerakan Pramuka.
Namun di Desa Danaraja, perjalanan itu meninggalkan cerita lain. Tentang seorang gadis 16 tahun yang masih berjuang melawan TB, tentang sebuah keluarga yang hidup dalam keterbatasan, dan tentang banyak pihak yang memilih bergerak ketika melihat ada warga yang membutuhkan.
Bagi Rojanatun, perjuangan itu belum selesai.
Selang oksigen masih terpasang. Obat masih harus diminum setiap hari. Dan harapan untuk bisa kembali bernapas tanpa bantuan oksigen masih terus dijaga. (Humas_1128)

